Jajanan Sehat Prestasi Meningkat

Senin, 27 Januari 2020 menjadi hari penuh semangat dan keceriaan bagi siswa/i SDN Margahayu II Bekasi Timur. Pasalnya, hari itu telah diselenggarakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) oleh dosen-dosen prodi farmasi STIKES Bani Saleh Bekasi. Bekerjasama dengan pihak sekolah jajaran guru, dan mahasiswa, kegiatan yang mengusung tema “Sadari Bahaya Pangan pada Jajanan Sekolah Dasar (SD) dan Budaya Sehat Sederhana dengan Mencuci Tangan” telah berjalan dengan sukses dan penuh antusias. Acara yang dihadiri lebih kurang 60 peserta ini dikemas dalam bentuk diskusi dan praktik yang interaktif dan ditutup dengan acara bermain yang menyenangkan. Hal ini menjadi magnet tersendiri bagi peserta. Kegiatan PKM sebenarnya merupakan agenda rutin yang diadakan di setiap semester perkuliahan STIKES Bani Saleh. Hal ini selain sebagai salah satu bentuk terselenggaranya tridharma perguruan tinggi bagi dosen, juga merupakan perwujudan utama dari Visi dan Misi STIKES Bani Saleh, yaitu menjadi kampus yang Islami, profesional, dan Unggul. Kegiatan PKM kali ini digawangi langsung oleh Annissa, Defi dan Fajar selaku dosen farmasi STIKES Bani Saleh. Ketiganya telah berhasil memaparkan bahaya bahan tambahan pangan berbahaya pada jajanan SD dan cara identifikasinya secara sederhana, sekaligus memaparkan pentingnya budaya cuci tangan. Tema kali ini diangkat atas dasar keresahan masyarakat akan bahaya jajanan SD yang semakin meningkat. Banyak pedagang yang tidak bertanggungjawab menambahkan zat tambahan yang berbahaya untuk meningkatkan bisnis tanpa mempertimbangkan risikonya bagi kesehatan anak. Himbauan untuk jajan sehat dan makan bergizi kini menjadi semakin gencar disuarakan terlebih oleh Kementerian Kesehatan dan BPOM. Selain itu, kebiasaan mencuci tangan masih belum menjadi hal yang diutamakan oleh masyarakat terutama anak-anak. “Rhodamin B dan Methanil yellow adalah contoh pewarna tekstil yang sering disalahgunakan oleh pedagang agar warna jajanannya lebih menarik”, kata Annissa yang memaparkan tentang ciri-ciri dan efek samping bahan tambahan makanan berbahaya. “Kami sangat mengapresiasi kegiatan seperti ini, dan kami berharap kegiatan ini dapat rutin diadakan”, imbuh Suparmin, kepala sekolah SD Negeri Margahayu II. Selain pemaparan materi, para peserta juga langsung diajarkan cara mengidentifikasi bahan tambahan berbahaya seperti rhodamin B dan boraks secara sederhana. Boraks sendiri sering ditambahkan pedagang nakal sebagai zat pengawet pada bakso, cilok, dan sebagainya. Dengan mempraktikkan secara langsung, anak-anak bisa dengan mudah mengingat dan mengaplikasikannya sehingga kepedulian terhadap memilih jajanan yang dikonsumsi lebih dapat ditegakkan. “Kami mengajarkan cara mudah mendeteksi zat tambahan pangan berbahaya kepada anak-anak sehingga mereka bisa melakukannya sendiri di rumah atau di sekolah”, papar Defi. Kegiatan ini ditutup dengan memengajarkan cara mencuci tangan yang benar yang disampaikan sambil bernyanyi. “Dengan media yang tidak membosankan, anak-anak bisa dengan mudah mengingat dan menjalankan kebiasaan hidup sehat,”tutup Fajar.